Friday, April 5, 2013

It's Not Geng, It's Family

Have You Ever Found Someone Who Just Matched You in A Bit of Time?
I Do. I Found Them.

July 2012, That's when it all began.
Ada satu gathering di suatu Mall atas nama suatu fandom. Bukan fandom primer gue sebenernya, tapi tahun itu girlband ini sangat berjasa buat gue. Sulit gue bayangkan kalau waktu itu, gw ga tahu T-ara mungkin gue ga akan tahu mereka.
fandom yang menyatukan kita,, *ceileeeeee~

Kalian tahu, kadang meskipun kita berteman lama dengan seseorang tapi tetap tidak mengenali mereka. Gue baru ketemu dengan mereka sekali dan minggu depan kita bertemu lagi, dan rasanya ada rindu dan excitement tiap kali kita bertemu. Orang-orang yang sama, bahasan yang tidak jauh berbeda tapi excitement itu terus ada. Seperti "Falling in love again and again everytime I see their face."

Terdengar lebay? Well, itu yang gue rasakan. You don't need to approve it to be true.

Dengan mereka semua topik bisa muncul dan menjadi obrolan panas seperti air yang bergolak kemudian tenang setelah tombol kompor dimatikan. Ketenangan hanya terjadi jika mulut kita dipenuhi makanan dan sibuk mengunyah. Karena mulut hanya satu. :)
Bahasan dari mulai hal sederhana, pengalaman pahit, konsep masa depan, permasalahan pribadi, komplikasi cinta, sampai kehidupan yang lebih kompleks. Kita mungkin bertemu atas nama T-ara dan Queens tapi obrolan tidak hanya berkisar dinamika grup tersebut; kita tumbuh, mendekat dan meluas. Kita menjadi satu.

Tiap ada acara Kpop selalu ada suatu agenda kecil dimana kita akan melakukan sesuatu bersama-sama, seakan meluangkan waktu untuk mencari tahu satu sama lain. Pernah karaoke, makan-makan atau sekedar duduk bersama menonton dan mengomentari sesuatu. Selalu ada yang kurang jika ada salah seorang diantara kita yang tidak hadir, tapi kemudian kita memakluminya; kita tumbuh dan dihadapkan dengan pilihan dan prioritas bicara bahwa hal tersebut tidak bisa kita tinggalkan. Selalu ada perasaan ingin berkumpul dan takut akan ketinggalan sesuatu jika ada agenda dimana kita absen, tapi mau apa lagi. Kita tidak bisa berada di dua tempat yang sama secara bersamaan.

[Oke kita mulai ke tingkat yang lebih serius]

Pertemanan kita ini setahun saja belum, tapi gue seolah merasa telah tumbuh besar bersama mereka. Kita berasal dari background yang berbeda, jurusan yang tidak sama, rumah yang berjauhan (bahkan ada yang dari pulau seberang), latar budaya yang berbeda, dan bahkan fandom awal kita berkumpul bukan satu-satunya fandom yang kita ikuti. Somehow, entah mengapa hal-hal yang berbeda dan berjauhan itu tidak memberikan jarak tapi justru alasan untuk terus mengenal satu sama lain tanpa merasa bosan. Karakter yang berbeda itu justru seperti potongan puzzle yang berbeda tapi saling melengkapi. Ada yang sudah bekerja, jadi entepreneur sederhana, masih kuliah, terjebak di semester akhir (eheum~), baru mulai kehidupan kampus. Ada yang jadi anak kosan, anak mama, tukang maen, artis lokal, newbie, pengelana, si galau, jomblo bahagia. Tapi semua perbedaan itu membuat selalu ada yang bisa ditanyakan dan dibicarakan.

Seperti planet/satelit kecil yang dulu punya orbit masing-masing dalam berevolusi, saat kita bertemu, seakan orbit kami menyatu dan kami berputar-putar di lingkaran yang sama tanpa kami bisa melawan. Terjadi begitu saja.
Helplessly unconciously inevitably we're getting together and bound in a circle of friendship.

Dari buku Madre karya Dee (hal 82):
"Dalam kasusku dan Darma (baca: kalian). Pertemanan ini tercipta bukan oleh banyaknya persamaan, melainkan tak terhitungnya perbedaan. Kami bertengkar, berargumen, saling mencela dan saling tidak mengerti, tapi KAMI TIDAK MEMILIH PERGI DAN MENCARI TEMAN LAIN."

Hal diatas bukan berarti lingkaran kami eksklusif dan tertutup. Orang bebas datang dan pergi, tapi sekalinya kau berkumpul dengan kami, akan ada slot baru di daftar absensi menunggu untuk diisi sewaktu-waktu kau memutuskan kembali dengan kami. Orang baru boleh datang, justru kami senang karena lingkaran ini terus bertambah, orbit yang melebar dengan adanya satelit baru yang ikut berputar dengan irama kami.
Dinamika pertemenan ada bersama kami, ada saatnya kami bertengkar karena argumen kecil, bete karena komentar pedas, slek karena salah paham, agak menjauh karena kesibukan, tapi ada sesuatu yang membuat kami menghangat jika kami sudah have fun bersama. Seperti ada tombol refresh yang sewaktu-waktu ditekan dan semua diulang, meskipun history yang ada tidak bisa direset tapi itu cukup. Cukup buat ku.

maaf ngeblur, yang penting memorinya ga ikut ngeblur, :)
Pernahkah kamu merasa begitu terhubung dengan seseorang sampai rasanya ada yang hilang kalau mereka tak ada? Gue pernah, dengan mereka. Seperti melihat cermin yang memantulkan bayang dan objek yang berbeda tapi selalu bisa membaca gerakanmu, saat kamu angkat tangan kanan ia juga mengangkat tangan kanannya. Rasanya seperti itu, kami berbeda satu sama lain tapi entah bahasa apa yang kami pakai, rasanya seseorang di pantulan cermin sana selalu meresponnya.

Ada saat dimana gue pengen nangis, dan sebelum airmata jatuh sudah ada tangan menenangadah di bawah daguku, peluk yang merengkuh kesedihan dan belaian lembut yang seakan berkata 'everything will be alright'. Ada saat dimana aku tidak enak badan dan mereka mengucap "GWS Chae, minum obat dan istirahat." bahkan sebelum aku bisa mendiagnosis sakit apa itu, tangan yang mau meremas jari ini untuk menyakinkan gw ga sendiri, atau sekedar pundak biar gue bisa nyender.

Rasanya bersama mereka seperti terdampar, lost di tempat yang baru tapi tidak membuatmu kesepian.
Gue selalu berdoa untuk mereka sehabis shalat, meski kami berbeda agama tapi Tuhan itu sama.

Doa sederhana agar Tuhan menjaga kami bersama, mengikat kami dalam ketidakterikatan, menjaga kebersamaan walau kami sedang terpisah, selalu menunjukkan jalan untuk pulang sewaktu-waktu kami tersesat, selalu menjadikan kami cahaya lilin bagi satu sama lain, dan supaya membuat kami rela untuk begini selamanya.  

Gue selalu berdoa bahwa pertemuan ini bukan semacam lelucon dari Tuhan,

bahwa ini memang ditakdirkan, bukan sesuatu yang Tuhan tiba-tiba ambil karena sedang bercanda, Tapi jikapun ini adalah lelucon dari Tuhan, semoga kami bisa tetap tertawa bersama-sama...

Bandung,
Di pagi yang mendung penuh rindu untuk kalian semua yang ga bisa disebut namanya satu-satu,
Chae...

Geng Ulin: A Circle That Never Ends

Have you ever felt like you know someone too close even if you just met them 2-3 times? 
I've been there. With Them.

July, 2012
Di suatu Mall sepi pengunjung, beberapa orang sekitaran belasan duduk di sofa krem yang sudah puar warnanya. Alasan mereka datang kesitu adalah untuk gathering suatu fandom girlband  asal Korea. Obrolan itu dipayungi topik untuk membuat gathering yang lebih besar, membuat baju dan foto bersama. Tapi itu hanya awal dari hal yang lebih besar. Dari ikatan yang lebih kental.

temante.man
[n] (1) kawan; sahabat: hanya -- dekat yg akan kuundang; (2) orang yg bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan); lawan (bercakap-cakap): -- seperjalanan; ia -- ku bekerja; (3) yg menjadi pelengkap (pasangan) atau yg dipakai (dimakan dsb) bersama-sama: ada jenis lumut yg biasa dimakan untuk -- nasi
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/teman#ixzz2PZ0VhH5R

Tapi anehnya, bahkan definisi itu tidak cukup untuk menjelaskan hubungan apa yang kemudian terjalin, ada mimpi yang saling bertautan, ada cinta yang menguncup, ada rindu yang mengembang dan suatu benang tak terlihat yang selalu membuat kita kembali berkumpul.

Pertemanan ini bukan jika dikaitkan dengan definisi diatas lebih kepada "pelengkap" dan "seperjalanan". Dua kata itu mungkin yang aku rasa paling tepat menggambarkan ikatan ini.
Seseorang dilahirkan sempurna dengan sendirinya, tapi akan selalu ada bagian yang kosong dalam 24 jam harinya yang hanya bisa diisi oleh orang lain. Mungkin untuk kehidupan early 20's ini, mereka lah yang melengkapiku.

Tapi jauh lebih penting mereka seperti "teman seperjalanan" yang tidak sengaja bertemu. Kita berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Jauh berbeda. Hanya range usia yang mungkin hampir sama. Ada yang sudah bekerja, ada yang baru lulus SMA dan masuk dunia kampus, ada yang terjebak di semester akhir, ada yang sudah menjadi entepreneur  lokal. Karakter kita pun tidak ada yang persis sama, ada yang kerjaannya galau, health-freak, cuek, tomboy, girly, annoying, hiperaktif, cerewet, pendiem, tech-freak, dll. Tapi somehow perbedaan itu justru jadi bumbu dan membuat kita ketagihan untuk terus main dengan orang-orang yang sama. Entah karena cocok, ga bosan atau sekedar "ga punya teman lain". Yang jelas, kita sudah begini.

Aku tidak suka telur, tapi mereka suka. Dan telur yang tadinya kubuang tidak jadi mubazir karena tidak dimakan, seperti mereka memang beda dariku tapi melengkapi apa yang tak ada padaku.
*mungkin memang ini perumpamaan yang buruk, sorry*

Kita ini layaknya planet dan satelit yang berevolusi pada lintasan orbit yang berbeda, awalnya tidak saling bersinggungan, tapi suatu saat entah itu gravitasi atau sekedar kehendak Tuhan, kami saling melintasi orbit satu sama lain, dan tanpa disadari kini kami berputar bersama dalam lintasan yang sama.

Kebersamaan ini bukan tanpa cela, seperti layaknya semua hal di dunia yang dinamis dan tidak tinggal diam, kami pun begitu. People come and go, that's what they say. Well, that's true. Ada banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari setahun ini, orang lama yang menjauh, berputar di orbitnya sendiri. Atau adanya orang baru, menubruk orbit memaksa memberi tempat untuknya. :)
Pertemanan ini bukan pertemanan yang tertutup atau eksklusif, banyak hal bisa terjadi as people growing up they either growing closer or growing apart. Dan hal sealami itulah yang terjadi pada kita. Orangnya boleh berbeda tapi takkan tergantikan dan perasaan kangen juga senang ini akan tetap jadi milik kita kalau kita bersama.

Lebih dekat daripada teman, lebih akrab daripada sahabat, lebih mesra daripada pacar dan dari semua kekurangan yang kita miliki entah kenapa aku merasa lengkap.

Dari buku MADRE karya Dee (hal 82):
"Dalam kasusku dan Darma (baca: kalian), pertemanan ini tercipta bukan oleh banyaknya persamaan, melainkan tak terhitungnya perbedaan. Kami bertengkar, berargumen, saling mencela dan saling tidak mengerti, tapi KAMI TIDAK MEMILIH PERGI DAN MENCARI TEMAN LAIN."

Banyak hal di dunia ini yang tampak tidak sinkronis tapi dapat diterima, warna baju dan celana yang tidak sama tapi masih disebut matching. Mungkin kita juga begitu, justru karena kita tidak sama, kita bersama.
Seperti layaknya potongan puzzle yang ujung-ujungnya berbeda justru bisa saling dipasangkan untuk membuat gambar besar yang lebih padu. Mungkin itu yang membuat kita satu, kita berbeda dan membuat kita saling rindu akan rasa penuh yang ada ketika kita sedang bersama.

Entah jika ada acara Kpop atau sekedar ada malam yang sepi jika dihabiskan sendiri, kita akan berkumpul seperti ngengat yang mengincar cahaya lampu. Bergumul dengan tawa, canda, cela sampai tangis. Entah kenapa, dengan kalian aku menjadi lupa tentang waktu, tempat dan rasanya dimana pun itu rasanya seperti rumah.

"It's not about where we go but about with WHOM we go that matters."
Aku belajar itu dengan kalian. Karaoke, naik turun bukit masuk hutan, makan-makan, window shopping di Mall, nonton acara Kpop atau sekedar duduk di ruang sempit; mengobrol, mencela, curhat, nonton dan mengomentari sesuatu. Mungkin untuk kalian itu kegiatan yang sia-sia atau tanpa makna, ya aku pikir juga begitu tapi bukan kegiatannya yang aku rasakan, after effectnya yang lebih penting. Perasaan senang, puas, lega itu yang sulit didapat dari orang lain.

Kita ini seperti belasan pengelana yang punya asal dan tujuan yang berbeda. Ada yang mau cari cinta, teman, saudara, cari uang biar kaya, cari video biar ada yang ditonton, atau sekedar kumpulan orang yang cari senang. Kita semua sedang dalam pencarian akan diri sendiri dan tujuan masing-masing tapi anehnya dipertemukan disini, sama orang-orang ini.

Pasti ada alasan Tuhan buat begitu, Dan aku tidak ragu mengucap syukur: untuk teman, kekasih, sahabat, saudara, kakak, adik dan "musuh" yang ada diantara kalian. Banyak yang kalian ajarkan, yang bahkan orang tuaku tidak bisa beli atau beri. Bersama kalian, aku jadi ingat siapa aku, bagaimana menjadi aku dan menjaga agar aku tetap jadi aku. Terimakasih. Alhamdulillah.

Ada doa yang selalu ku panjatkan pada Tuhan kita yang sama, meski agama kita berbeda, yaitu:
"Semoga apa yang ada saat ini antara kita bisa kita jaga, Tuhan jaga. Bahwa cerita kita yang penuh tawa dan dipercikkan tangis ini bukan sekedar lelucon Tuhan yang sewaktu-waktu diambil dariku. Semoga jika pun ini adalah lelucon, kita masih bisa bersama-sama menertawakannya. Agar semua yang ada atau pernah ada atau akan ada akan selalu ada didekatku, menertawakan kebodohanku. Agar yang tadi menjauh tetap terikat benang tipis dan ingat jalan pulang bahwa mereka selalu punya rumah di hatiku. Bahwa ada satu tempat terjaga untuk mereka. Semesta dan Tuhan yang punya jawaban. Aku dan mereka hanya bisa melihat dan menunggu tanda-tanda. Semoga apa yang terikat jangan lepas meski kadang longgar."

Bandung,
Di hari yang mendung April ini,
Untuk kalian yang selalu bikin aku mikir; malam terlalu sia-sia kalau cuma dihabiskan untuk tidur. 

Chae~

Thursday, April 4, 2013

Being Besties Not Just Friends

Doesn't it freak you out? Having someone depending on you. 
What if you screw up?

Berteman itu gampang, mudah dan ringan. Ga perlu ada banyak alasan untuk terus stay friends sama orang yang sama. Tapi ketika kamu mulai masuk ke zona "sahabat", everything become a responsibility.

Sama kayak pacaran, sahabatan juga butuh komitmen. Pernah ga ngerasa bersalah atau sedih yang ga normal ketika sahabat-sahabat lo kumpul karena suatu hal dan lo ga bisa ikut? Kesel banget kalo gue sih, tapi ya gimana kalo emang kita lagi ada hal yang ga bisa ditinggalin. Harus milih! well yes, but the consequences follow.

Sebenernya ketika ngumpul sama sahabat, ga perlu ada agenda penting untuk diomongin, cuma mau ketemu, ngobrol, sharing dan ketawa aja. Tapi udahnya enaaaaaak banget. Aneh sih tapi ya gitu....

Okay back to topic. Ketika gue sahabatan, entah karena latar belakang gw dari jurusan Psikologi, kecerewetan gue, atau karena kata orang gw itu pinter; beberapa orang bilang "enak kok cerita ma lo, nyaman, dan nyambung". Well, itu bikin gue seneng, artinya cara gue berkomunikasi berhasil ke orang itu, nyampe bukan cuma di otak tapi di hati juga. Sayangnya at some point, gw punya ketakutan.

yes, KETAKUTAN. Takut bukan sama hantu atau apa. Tapi gue takut gagal.
Gagal jadi temen yang baik, gagal mendengarkan apa yang mau sahabat gue omongin, gagal memberi respon yang sesuai (entah karena gue ga tahu ngomong apa, atau gue emang lagi bete). 

Karena, ketika seseorang share something sama lo, even if just a daily base secret, it becomes huge when they say "Plis, ini rahasia. Jangan diomongin ke siapa-siapa". *deg* dan gue pun diam.
Bukan karena gue mulutnya ember, tapi emang karena untuk jaga kepercayaan seseorang itu SULLLIIIIIIIIT. jauh lebih sulit daripada untuk mendapatkannya. 

So, dear all of my friends....
Your secret is safe with me, I'm afraid I'll screw up.
But hell with it! I'm gonna keep our dirty little secret to my grave...

Sincerely,
Cha