Friday, April 5, 2013

Geng Ulin: A Circle That Never Ends

Have you ever felt like you know someone too close even if you just met them 2-3 times? 
I've been there. With Them.

July, 2012
Di suatu Mall sepi pengunjung, beberapa orang sekitaran belasan duduk di sofa krem yang sudah puar warnanya. Alasan mereka datang kesitu adalah untuk gathering suatu fandom girlband  asal Korea. Obrolan itu dipayungi topik untuk membuat gathering yang lebih besar, membuat baju dan foto bersama. Tapi itu hanya awal dari hal yang lebih besar. Dari ikatan yang lebih kental.

temante.man
[n] (1) kawan; sahabat: hanya -- dekat yg akan kuundang; (2) orang yg bersama-sama bekerja (berbuat, berjalan); lawan (bercakap-cakap): -- seperjalanan; ia -- ku bekerja; (3) yg menjadi pelengkap (pasangan) atau yg dipakai (dimakan dsb) bersama-sama: ada jenis lumut yg biasa dimakan untuk -- nasi
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/teman#ixzz2PZ0VhH5R

Tapi anehnya, bahkan definisi itu tidak cukup untuk menjelaskan hubungan apa yang kemudian terjalin, ada mimpi yang saling bertautan, ada cinta yang menguncup, ada rindu yang mengembang dan suatu benang tak terlihat yang selalu membuat kita kembali berkumpul.

Pertemanan ini bukan jika dikaitkan dengan definisi diatas lebih kepada "pelengkap" dan "seperjalanan". Dua kata itu mungkin yang aku rasa paling tepat menggambarkan ikatan ini.
Seseorang dilahirkan sempurna dengan sendirinya, tapi akan selalu ada bagian yang kosong dalam 24 jam harinya yang hanya bisa diisi oleh orang lain. Mungkin untuk kehidupan early 20's ini, mereka lah yang melengkapiku.

Tapi jauh lebih penting mereka seperti "teman seperjalanan" yang tidak sengaja bertemu. Kita berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Jauh berbeda. Hanya range usia yang mungkin hampir sama. Ada yang sudah bekerja, ada yang baru lulus SMA dan masuk dunia kampus, ada yang terjebak di semester akhir, ada yang sudah menjadi entepreneur  lokal. Karakter kita pun tidak ada yang persis sama, ada yang kerjaannya galau, health-freak, cuek, tomboy, girly, annoying, hiperaktif, cerewet, pendiem, tech-freak, dll. Tapi somehow perbedaan itu justru jadi bumbu dan membuat kita ketagihan untuk terus main dengan orang-orang yang sama. Entah karena cocok, ga bosan atau sekedar "ga punya teman lain". Yang jelas, kita sudah begini.

Aku tidak suka telur, tapi mereka suka. Dan telur yang tadinya kubuang tidak jadi mubazir karena tidak dimakan, seperti mereka memang beda dariku tapi melengkapi apa yang tak ada padaku.
*mungkin memang ini perumpamaan yang buruk, sorry*

Kita ini layaknya planet dan satelit yang berevolusi pada lintasan orbit yang berbeda, awalnya tidak saling bersinggungan, tapi suatu saat entah itu gravitasi atau sekedar kehendak Tuhan, kami saling melintasi orbit satu sama lain, dan tanpa disadari kini kami berputar bersama dalam lintasan yang sama.

Kebersamaan ini bukan tanpa cela, seperti layaknya semua hal di dunia yang dinamis dan tidak tinggal diam, kami pun begitu. People come and go, that's what they say. Well, that's true. Ada banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari setahun ini, orang lama yang menjauh, berputar di orbitnya sendiri. Atau adanya orang baru, menubruk orbit memaksa memberi tempat untuknya. :)
Pertemanan ini bukan pertemanan yang tertutup atau eksklusif, banyak hal bisa terjadi as people growing up they either growing closer or growing apart. Dan hal sealami itulah yang terjadi pada kita. Orangnya boleh berbeda tapi takkan tergantikan dan perasaan kangen juga senang ini akan tetap jadi milik kita kalau kita bersama.

Lebih dekat daripada teman, lebih akrab daripada sahabat, lebih mesra daripada pacar dan dari semua kekurangan yang kita miliki entah kenapa aku merasa lengkap.

Dari buku MADRE karya Dee (hal 82):
"Dalam kasusku dan Darma (baca: kalian), pertemanan ini tercipta bukan oleh banyaknya persamaan, melainkan tak terhitungnya perbedaan. Kami bertengkar, berargumen, saling mencela dan saling tidak mengerti, tapi KAMI TIDAK MEMILIH PERGI DAN MENCARI TEMAN LAIN."

Banyak hal di dunia ini yang tampak tidak sinkronis tapi dapat diterima, warna baju dan celana yang tidak sama tapi masih disebut matching. Mungkin kita juga begitu, justru karena kita tidak sama, kita bersama.
Seperti layaknya potongan puzzle yang ujung-ujungnya berbeda justru bisa saling dipasangkan untuk membuat gambar besar yang lebih padu. Mungkin itu yang membuat kita satu, kita berbeda dan membuat kita saling rindu akan rasa penuh yang ada ketika kita sedang bersama.

Entah jika ada acara Kpop atau sekedar ada malam yang sepi jika dihabiskan sendiri, kita akan berkumpul seperti ngengat yang mengincar cahaya lampu. Bergumul dengan tawa, canda, cela sampai tangis. Entah kenapa, dengan kalian aku menjadi lupa tentang waktu, tempat dan rasanya dimana pun itu rasanya seperti rumah.

"It's not about where we go but about with WHOM we go that matters."
Aku belajar itu dengan kalian. Karaoke, naik turun bukit masuk hutan, makan-makan, window shopping di Mall, nonton acara Kpop atau sekedar duduk di ruang sempit; mengobrol, mencela, curhat, nonton dan mengomentari sesuatu. Mungkin untuk kalian itu kegiatan yang sia-sia atau tanpa makna, ya aku pikir juga begitu tapi bukan kegiatannya yang aku rasakan, after effectnya yang lebih penting. Perasaan senang, puas, lega itu yang sulit didapat dari orang lain.

Kita ini seperti belasan pengelana yang punya asal dan tujuan yang berbeda. Ada yang mau cari cinta, teman, saudara, cari uang biar kaya, cari video biar ada yang ditonton, atau sekedar kumpulan orang yang cari senang. Kita semua sedang dalam pencarian akan diri sendiri dan tujuan masing-masing tapi anehnya dipertemukan disini, sama orang-orang ini.

Pasti ada alasan Tuhan buat begitu, Dan aku tidak ragu mengucap syukur: untuk teman, kekasih, sahabat, saudara, kakak, adik dan "musuh" yang ada diantara kalian. Banyak yang kalian ajarkan, yang bahkan orang tuaku tidak bisa beli atau beri. Bersama kalian, aku jadi ingat siapa aku, bagaimana menjadi aku dan menjaga agar aku tetap jadi aku. Terimakasih. Alhamdulillah.

Ada doa yang selalu ku panjatkan pada Tuhan kita yang sama, meski agama kita berbeda, yaitu:
"Semoga apa yang ada saat ini antara kita bisa kita jaga, Tuhan jaga. Bahwa cerita kita yang penuh tawa dan dipercikkan tangis ini bukan sekedar lelucon Tuhan yang sewaktu-waktu diambil dariku. Semoga jika pun ini adalah lelucon, kita masih bisa bersama-sama menertawakannya. Agar semua yang ada atau pernah ada atau akan ada akan selalu ada didekatku, menertawakan kebodohanku. Agar yang tadi menjauh tetap terikat benang tipis dan ingat jalan pulang bahwa mereka selalu punya rumah di hatiku. Bahwa ada satu tempat terjaga untuk mereka. Semesta dan Tuhan yang punya jawaban. Aku dan mereka hanya bisa melihat dan menunggu tanda-tanda. Semoga apa yang terikat jangan lepas meski kadang longgar."

Bandung,
Di hari yang mendung April ini,
Untuk kalian yang selalu bikin aku mikir; malam terlalu sia-sia kalau cuma dihabiskan untuk tidur. 

Chae~

No comments:

Post a Comment